Beliau berhati malaikat…

22 Okt

5 tahun sudah aku  menunggu waktu untuk hari ini. Hari dimana aku akan mengetahui seseorang  berhati malaikat yang selama ini bersembunyi dibalik amplop yang ditujukan untukku setiap bulannya. Amplop yang aku terima sebagai beasiswa setiap bulan itu menurut orang lain mungkin tidak seberapa. Akan tetapi, betapa besarnya nilai amplop ini sampai-sampai aku  bisa menamatkan sekolah menengah atas dan juga menamatkan kuliah.

Aku bersemangat pagi ini melangkahkan kaki menuju sebuah kantor amil zakat di kotaku. 20 menit perjalan dengan angkot ini terasa begitu lama dari biasanya, mungkin aku yan sudah tidak sabaran ingin segera sampai di kantor itu. Kantor sederhana yang telah menjadi jembatan antara aku dengan sosok yang ingin segera kuketahui dan kutemui nanti.

Senyum hangat menyambutku sesampainya aku di kantor biru itu. Pertanyaan demi pertanyaan terlontar dari staff kantor.

“Kemana saja? Kok jarang sekarang maen ke kantor?” Sambut salah seorang staff yang sudah aku anggap sebagai kakakku. Disambut oleh pertanyaan ramah dari yan lain, “kapan wisuda?”

“InsyaAllah besok kak…dateng yah..!!” jawabku.

Aku memang dekat dengan semua staff disana, mengapa tidak? 5 tahun aku berstatus sebagai anak asuh di kantor ini. Melaluinya aku diberi beasiswa setiap bulannya. Tidak hanya itu, aku juga banyak diberikan rezeki lainnya. Pernah diajak untuk liburan berkemah, makan bersama, berbuka puasa bersama, dan setiap menjelang lebaran aku dihadiahi bingkisan paket lebaran. Pernah aku diberikan sebuah mukena cantik 4 tahun lalu yangsampai sekarang masih aku pakai dalam setiap shalatku. Semoa Allah memberikan rezeki dan pahala yan tak terhenti untuk orang yang menghadiahiku mukena cantik itu walau hingga saat ini aku tak tahu siapa orang itu.

Setelah melepas rindu berbincang-bincang dengan beberapa staff kantor, tiba waktunya aku menanyakan hal yang selama ini ingin sekali ku ketahui. Dengan nada pelan aku bertanya

“Kak, aku kan sudah 5 tahun jadi anak asuh disini dari kelas 2 SMA malah, dan besok mau  wisuda, aku mau tahu siapa donatur yang selama ini ngasih beasiswa tiap bulannya sama aku, boleh?”

Kak Ve terdiam sejenak, disusul senyum polosnya. Kemudian dia mulai mencari-cari sesuatu dalam lemari filenya. Tak lama dia kembali tersenyum padaku.

“Mungkin ini udah waktunya kamu untuk tahu siapa beliau” Tegasnya

Lalu dia menyebutkan sebuah nama “Ibu Dewi, dia kerja di kantor seberang jalan ini, kalau kamu mau, kakak saranin datanglah kesana, temui Ibu itu, dan bilang kalo kamu anak ibu itu, pasti dia ngerti.?

Aku membalas senyumannya, mengangguk sambil beranjak pamit.

Ada rasa senang sekaligus degdeg-an dihati ini, karena aku akan segera tahu siapa sosok berhati malaikat itu. Dia tak kenal aku, tak mengenal keluargaku. Hanya dengan selembar kertas fotocopy raporku yang diterimanya dari kantor amil zakat tiap akhir semester dia mau menyisihkan gajinya tiap bulan untukku. Untuk pendidikannku, untuk masa depanku.

Langkah kakiku membawaku ke kantor tempat ibu Dewi bekerja. Dengan jantung yang berdebaar kencang, aku dituntun oleh salah seorang karyawan menuju ruang kerja bu Dewi. Perasaan haru tak dapat kusembunyikan tatkala aku melihat beliau duduk  di kursi kerjanya. Kucium lembut tangan halusnya. Aku perhatikan wajahnya, putih, berseri, bercahaya. Sedang bu Dewi masih terlihat binggung melihatku yang termangu di depannya.

“Ada yang bisa saya bantu?” Kalimatnya memulai percakapan.

Aku tersenyum haru, air mata mulai menggenangi pipiku. Inikah orang yang berhati baik itu, ucapku dalam hati.

“Saya anak ibu…”suaraku serak menahan air mata.

Terlihat sekali beliau terheran mendengar pernyataanku tadi.

“Saya anak asuh ibu. Saya anak yang tiap bulan Ibu berikan beasiswa selama 5 tahun itu Bu”

Ibu Dewi tersenyum. Senyuman yang terpancar dari hatinya membuat aku begitu betah bersamanya dan berbincang santai di ruangan itu. Dipenghujung perbincangan itu, aku mengucapkan terimakasih padanya. Ucapan terima kasih seraya mendoakan beliau. Lalu aku pamit dan kembali mencium tangan beliau seraya keluar dari ruang kerjanya. Ada kelegaan tersendrir dihatiku. Selama 5 tahun aku tak mengetahui siapa sosok itu. Selama 5 tahun aku memendam keingintahuan itu, kini terungkap sudah. Beliau yang berhati malaikat….

Ya Allah, ya Rabb… Engkau Maha Tahu betapa senangnya hatiku, Engkau memudahkan jalanku melaui Ibu Dewi… hari ini aku dapat langsung bertemu, memandang, mencium tangannya. Tidak akan terjadi semua ini jika tanpaMu ya Rabb, maka berilah keberkahan dalam rezeki beliau, sehatkan beliau, terimalah semua amalan beliau, dan ampuni dosa-dosa beliau, mudahkanlah jalan hidup beliau dan keluarganya Rabb… Aamiin….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: